Metode Perhitungan Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa Yang Ideal

Sebenarnya banyak cara dalam menghitung besaran uang pertanggungan yang dibutuhkan layak seorang kepala keluarga yang ideal dan standart yang mengacu kepada standart kebutuhan biaya hidup dan lain nya. Seorang Agen Asuransi yang telah belajar Ilmu Financial Planning pasti sudah tau dan mengerti setidak nya dalam cara menghitung Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa yang tepat jumlah nominal nya bagi tertanggung, yang mana uang pertanggungan ini kelak akan di berikan kepada Ahli Waris sepeninggalan nya Almarhum semasa hidupnya dengan memiliki polis asuransi jiwa.

1. Income replacement based

Income Replacement Based (IRB) adalah metode yang bisa digunakan untuk menghitung berapa pendapatan seseorang hingga pensiun. Misal, pendapatan A sebulan Rp10 juta. Usia A saat ini 35 tahun dan ingin pensiun di usia 55. Jadi, masa produktifnya 20 tahun lagi. Dengan metode ini, cara menghitung UP A adalah Rp10 juta x 12 (bulan) x 20 (tahun). Hasilnya Rp2,4 miliar.

Jika A meninggal dan nilai konsumsi keluarga setiap bulannya sebesar Rp10 juta, uang pertanggungan baru akan habis 20 tahun kemudian. Metode ini biasanya cocok untuk orang yang pensiunnya tidak lama lagi.

2. Human life value based

Human Life Value Based (HLVB) menghitung pendapatan seseorang sampai pensiun tapi dengan memperhitungkan hasil investasi instrumen yang memiliki risiko minim (risk free rate). Ketika A meninggal, UP itu oleh keluarganya ditempatkan di instrumen risk free, seperti deposito, obligasi ritel Indonesia (ORI), dan Sukuk Ritel. Jadi selain menerima UP, ahli waris juga akan menerima hasil investasi (return).

Metode ini menghitung nilai sekarang (present value) pendapatan plus risk free rate. Dengan asumsi yang sama, cara menghitungnya: Rp10 juta x 12 (bulan) x (100% + 5,2%) x 20 (tahun) : 105,2% pangkat 20 – 1. Hasilnya, UP dibutuhkan kurang lebih Rp1,437 miliar.

3. Income value based

Metode Income Value Based (IVB) digunakan untuk mencari tahu berapa besar nilai yang apabila ditempatkan di deposito atau dibelikan obligasi ritel akan menghasilkan return setiap bulan sebesar pendapatan tertanggung. Cara menghitungnya, pendapatan dalam setahun dibagi dengan risk free rate.

Masih dengan asumsi yang sama seperti sebelumnya maka cara perhitungnya adalah: Rp10 juta x 12 (bulan) : risk free rate 5,2%. Hasil perhitungan simulasi tersebut adalah besaran UP sekitar Rp2,3 miliar. Metode ini sebaiknya digunakan jika risk free rate tinggi atau jika kemampuan keluarga yang ditinggalkan kelak cukup memadai untuk mengelola UP dengan melakukan investasi yang baik.

4. Survival value based

Metode Survival Value Based (SVB) adalah menghitung pendapatan selama masa produktif sampai usia pensiun lalu ditambah dengan utang-utang yang dimiliki dan kebutuhan dana darurat keluarganya. Cara menghitungnya bisa menggunakan IRB, HLVB, atau IVB + utang-utang + kebutuhan dana darurat. Metode ini cocok untuk keluarga yang memiliki utang besar dan utangnya tersebut tidak dilindungi asuransi jiwa kredit.

5. Family needs based

Metode Family Needs Based (FNB) adalah metode yang sangat lengkap. Sebab, metode ini menghitung kebutuhan-kebutuhan keluarga setelah tertanggung meninggal. Jadi menghitungnya bukan dari pendapatan tapi dari berapa besar kebutuhan keluarga yang ditinggalkan.

Cara menghitungnya dengan menjumlahkan pengeluaran keluarga yang ditinggalkan, dihitung dengan nilai sekarang (present value) lalu ditambah kebutuhan dana darurat, dana pendidikan anak-anak, utang, dan kebutuhan lainnya jika memang ada. Hasilnya kemudian dikurangi aset lancar yang dimilik saat ini.

Metode perhitungan Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa ini cocok jika seseorang ingin memastikan dengan persis kebutuhan keluarga sepeninggal si tulang punggung tersebut. Namun, metode ini membutuhkan perhitungan lebih yang teliti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X